I’ll Never STOP !!

 

Author : Miyu

Genre : Romance

Cast : Kim Jonghyun – Han Eun-Jae

Length : Oneshoot

 

NB : minta maaf sebelumnya kalo ada typo, ini ngetik dari jam sebelas, baru kelar jam dua. hahaha. ini juga FF ONESHOOT perdanaku, jadi kalo ada yang kurang sreg mian yaa ^O^ oh ya, soal plot emang ga aku kasih @flashback atau masa kini-nya, biar readers tahu sendiri aja🙂

KEEP RCL ya!

oya, sampek lupa. thanks to seseorang yang udah menyumbangkan inspirasi. karena hanya dia, yang membuatku tersenyum walau dalam keadaan lemah seperti apapun. dan juga, special thanks to Han Eun-Jae yang sudah dengan istiqomah(?) mencintai Jonghyun. haha

 

=======^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^======

 

Just a little story about Jonghyun and Eun-Jae..,

 

 

aku meremas sebuah kertas lusuh yang sedari tadi kucoba tuk pahami. kepalaku menunduk, merasa gagal telah menyia-nyiakan waktu.

mungkin jika aku mencegahnya agar tetap tinggal, aku tak perlu menangisinya begitu dalam. mungkin jika aku mendengarkannya dengan seksama, aku mengerti apa maksud semuanya. mungkin jika aku tak terlalu terbawa emosi, aku akan tak merasa menjadi orang yang paling jahat yang pernah lahir di dunia ini.

=======^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^======

 

“Jonghyun-a.. apa kau sedang jatuh cinta pada seseorang ?”

“mwoya ? kenapa kau bertanya seperti itu ?”

“tidak, hanya saja membahas seperti ini akan menjadi hal asik bagiku. jadi, apa kau sedang jatuh cinta pada seorang gadis ?”

“hmmm, tidak juga.”

gadis itu mendekat, lalu menepuk pahaku pelan. sambil tersenyum ia berkata,

“aku sedang jatuh cinta pada seorang lelaki. kau mau tahu siapa ?”

aku membelalakkan mataku. sedikit tertarik dengan siapa yang sudah menjajah hatinya. ada sedikit harapan jika ia berkata akulah seseorang itu.

“nugu ? nugu ?”

ia tertawa renyah.

“kakak kelasku.”

kerja jantungku berhenti untuk sesaat. aku seperti tak membutuhkan udara untuk bernafas. kakak kelasnya ? siapa ? sudah berapa lama ia memendam rasa itu ? kenapa aku tak tahu ?

“sudah lama?”

“apanya ?”

“memendam rasa itu.”

“hmmm, ya.”

“sampai sekarang ?”

“sampai kapanpun. dia seseorang yang berarti untukku. walaupun ia sering mengacuhkan keadaanku, walaupun ia tak pernah mengerti, bahkan mungkin ia tak ingin mengerti.”

aku mengelus rambutnya lembut. mencoba bersimpati. sedikit rasa lega menjalar, menimbulkan sensasi nyaman tersendiri untukku. jadi orang itu tidak pernah tahu bahwa seorang gadis, yang kini berada di hadapanku menyukainya sejak lama ? bahkan mungkin memimpikannya menjadi kekasihnya. cih, dia terlalu bodoh untuk menjadi seorang lelaki yang telah menjajah hati gadis ini.

“jadi, kau benar-benar tak ingin cerita ? oh ayolah, pasti ada seorang gadis yang membuatmu tertarik!” pancingnya lagi. matanya yang sipit membesar, menandakan bahwa ia sangat ingin mengetahuinya.

aku menggeleng. membuatnya melengos kesal.

 

aku tersenyum getir saat memori otakku membawaku ke masa ini. masa dimana seorang gadis sedang mengaku tentang sebuah rasa yang sudah lama dipendamnya.

pada kakak kelasnya yang tak pernah mengerti. atau mungkin benar, aku tak ingin mengerti..

aku meremas kasar rambutku. bahkan saat dimana ia benar-benar jatuh, ia tetap menaruh harapan besar itu padaku. padaku, ya, kakak kelas yang tak pernah mengerti.

begitu bodohnya aku saat itu, tak pernah memikirkannya matang-matang, tak pernah melihat secercah harapan dimatanya yang ingin sekali menyadarkanku. betapa bodohnya aku, saat ia mencoba memasuki relung hatiku, dan aku menggeleng padanya. betapa bodohnya aku, yang menyia-nyiakan waktu bersamanya.

hanya untuk sekedar mengerti tentang perasaannya.

=======^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^======

 

@valentine’s day

 

“kau ingin memberikannya pada siapa ?”

“kakak kelasku.”

“kau benar-benar menyukainya ?”

“ya, seperti yang kau lihat. aku tak akan pernah lelah menunggunya mengerti.”

“apa memang semua wanita seperti kau ? rela menabahkan hati hanya untuk seorang lelaki yang sampai sekarang pun tak mengerti bahwa ada gadis yang menaruh harapan begitu besar padanya ?”

“semua wanita akan melakukan hal yang sama, oppa. bahkan di titik serendah apapun harapan itu, ia akan tetap menyimpannya.”

aku mengangguk mengerti, walau sebenarnya pikiranku sedang tidak terlalu fokus pada apa yang ia bicarakan. tak lama berselang, segerombol wanita mendatangiku dan berteriak histeris sambil menyerahkan coklat-coklat berbungkus pink yang mencolok.

aku sudah tidak berpikir bahwa gadis itu masih berada disampingku atau tidak. mungkin ia sudah mencari kakak kelas yang disukainya.

di tengah keramaian itu, seseorang menepuk bahuku dari belakang. aku yang posisinya sangat-sangat tidak menguntungkan–terhimpit oleh banyak gadis–tak bisa melakukan apapun. yang kulakukan malah tersenyum pada kamera-kamera yang mengarah padaku. aku tahu aku sangat menarik, pesonaku seperti tak akan habis dengan blitz-blitz kamera. aku melakukan banyak pose dengan tangan penuh dengan bingkisan coklat.

sekali lagi, seseorang itu menepuk bahuku. aku yang memang sudah lelah dengan keramaian itu akhirnya mengundurkan diri. menjauh dari ramai histeris para gadis, bahkan ada beberapa yang menangis melihat bingkisannya sudah berada ditanganku.

“hey, kau. bisa bantu aku membawakannya ?”

gadis itu tersenyum. gadis yang beberapa menit lalu berdiri disampingku itu menatapku lama. seolah mencoba mengerti apa yang barusan kukatakan.

“ya, Han Eun-Jae. kau tak mendengarkanku?”

gadis itu malah makin melebarkan senyumnya, sampai-sampai matanya seperti menghilang, tenggelam diantara kerut senyumnya.

lalu dengan sekali hentakan, ia membuang sebuah bingkisan rapi–yang aku tahu itu adalah coklat untuk kakak kelasnya–ke tong sampah. aku membelalakkan mataku.

ia hanya tersenyum, “dia sibuk, jadi kubuang saja.”

aku mengangguk, lalu menyerahkan segunung tumpukan coklat padanya. lalu ia berjalan mengikutiku, seidkit tertinggal karena koridor sekolah memang sedang ramai oleh para murid yang bertebaran dengan segala hal berbau pink dan coklat.

aku melangkahkan kakiku dengan ringan, amat sangat ringan. hatiku berbangga pada wajah dan tampilanku yang memang selalu memukau untuk para gadis.

“kenapa kau menangis, Jae-a?”

tanyaku sesampainya kami di rumah. ia menyusun kotak-kotak coklat itu di meja ruang tamu. kulihat airmatanya masih menetes walau ia sudah tersenyum memandangi coklat-coklat itu.

“aku hanya terharu, kau bisa mendapat banyak coklat.  kau pastilah seseorang yang banyak diidam-idamkan para gadis. aku terharu, mungkin suatu saat aku akan melihatmu menggandeng tangan seorang gadis, dan berkata padaku, ‘Jae-a, kenalkan, dia pacarku.’ dan aku hanya bisa menangis melihatnya.”

“kenapa kau malah menangis ?”

“aku hanya mengeluarkan apa yang bisa kukeluarkan. jika dengan menangis aku bisa melihatmu tertawa senang, maka akan kukeluarkan, bukan ?”

lalu aku mengangguk mengerti. kemudian merangsek maju, membantunya menyusun kotak-kotak coklat yang makin meninggi.

 

aku tak menyadari airmataku yang sudah terjun bebas tanpa seizinku.

tak ada keinginan untuk mengusapnya, bahkan untuk menghilangkannya. biar, biar saja airmata ini terungkap. airmata yang seharusnya sudah dari dulu kukeluarkan. airmata yang seharusnya menyadarkanku dulu.

aku begitu bodoh melihatnya membuang bingkisan coklat itu. padahal saat ia membuatnya, ia terjaga semalaman hanya untuk memastikan coklat itu aman dan hasilnya sempurna. padahal aku tahu, ia membuatnya dengan sungguh-sungguh, berharap ‘kakak kelas itu’ menerimanya dengan tangan terbuka.

aku terlalu sibuk, benar. bahkan sampai rela mengacuhkannya.

kenapa ? kenapa mata ini baru sadar ? setelah ia bahkan tak bisa kujamah lagi ?

=======^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^======

 

oppa, kau bisa mendengarku ?”

aku mengangguk melihatnya dari layar telepon genggamku. ia memang akan berangkat ke Tokyo, meninggalkan Seoul, bahkan aku.

oppa, sudah banyak kenangan diantara kita. aku menyukainya, aku sangat menyukainya. bahkan sepertinya ingatan tentang kenangan kita akan selalu tersimpan di memori otakku. aku suka melihat wajahmu yang baru bangun dari tidur nyenyakmu, aku suka melihat berbagai alat perawatan wajahmu yang terjejer rapi di kamarmandi, aku suka mencium baumu setelah kau mandi untuk waktu yang sangat lama. haha, bahkan aku tak pernah tahu apa yang kau lakukan didalam sana untuk menciptakan harum semerbak setelahnya.

oppa, setahun bersamamu seperti anugrah terindah bagiku. setiap pagi melihatmu menguap sambil menghabiskan sarapanmu, membuatku merasa hari ini aku bisa melakukan apapun, sekalipun itu berat bagiku. melihatmu yang dengan gagah memasuki gerbang sekolah, membuatku semangat untuk mengikuti pelajaran, walau aku tidak terlalu berminat.

oppa, tahukah kau, kau sangat berharga di hidupku? tahukah kau bahwa kau sangat berarti di sini ? dihatiku, yang bisa menghangatkannya hanya kau. tahukah kau bahwa aku sangat….hiks, sangat menyayangimu?

oppa, jika kau tahu aku sangat keberatan dengan penerbangan ini, maukah kau membatalkannya untukku ?”

aku tergagap. apa itu benar sebuah pertanyaan yang harus segera kujawab ?

“Jae-a, aku tahu kau sangat ingin mencapai masa depanmu. di Tokyo, keluargamu sudah menantimu dengan banyak harapan, kau ataupun aku tak bisa membatalkannya. kau tak ingin mereka berlinang airmata melihatmu lebih memilih menjalani hidup disini ?

Jae-a, jangan kau anggap perpisahan ini seolah hal yang terakhir. kapan-kapan aku akan berkunjung kesana. mencarimu, hanya mencarimu. jadi, kau tenang saja, oke ?”

ia sesenggukan. aku tak kuat menatapnya menangis.

oppa, jika kuulang waktu dan aku mengatakan bahwa aku tak ingin mengejar impianku, apa yang kau lakukan sekarang ?”

pertanyaannya makin membuatku gila.

“Jae-a, kau akan menyesal jika memilih hidup bersamaku. kau punya impian, dan aku juga punya impian. kau jalani impianmu, dan kujalani impianku. itu sudah wajar, kan ? kau akan menjadi gadis terkuat untukku. seorang gadis yang selalu kuat walau ia berada di titik terendah sekalipun.”

“haruskah aku pergi sekarang ?”

aku meneguk ludahku. lalu kuanggukkan kepalaku. ia tersenyum, getir.

arasseo, jaga dirimu baik-baik oppa, aku akan selalu menunggumu.”

ara, kau juga. salam untuk keluargamu, ne ?”

Ne, annyeong.”

annyeong.”

ia tak memutus hubungan teleponnya. membuatku sedikit bingung, lalu akhirnya aku yang memutuskan untuk memutus hubungan. ada sesuatu yang membuatku berat untuk melangkah, bahkan untuk menghembuskan nafas kembali ke udara bebas. seperti ada yang mengganjal, tepat disini. dihatiku.

tapi aku tak menggubrisnya, aku mencoba untuk bisa menerima kenyataan bahwa Han Eun-Jae, gadis yang selalu tersenyum ketika aku membuka mataku sudah pergi, dan kekosongan sangat terasa saat aku menginjakkan kakiku dirumah.

tidak ada celoteh riang yang menyambutku. tidak ada alunan nada yang ngawur menghiasi rumah ini. tidak ada bau masakan yang menggoda selera setiap aku pulang. tidak ada raut senang yang selalu menyambutku ketika aku pulang. ya, dia tidak ada.

 

dan itu karena aku. padahal dia sudah mencoba memberiku peluang untuk menahannya tetap berada disisiku. padahal dia sudah menggantungkan masa depannya dibahuku, padahal dia sudah berkata terus terang padaku.

ada apa denganku waktu masa itu ? ada apa dengan mataku yang tak bisa membaca gerak-gerik tubuhnya yang menginginkan aku untuk selalu dapat memeluknya? ada apa dengan telingaku yang tak bisa mendengar detak jantungnya yang kacau saat berusaha meyakinkanku? ada apa dengan hatiku yang bahkan rela melihatnya tersiksa hanya untuk menungguku?

=======^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^======

 

dear

my lovely oppa,

 

sudah lama sekali aku tak menatapmu, apa kabar ? kuharap kau baik-baik selalu. aku tak akan bertele-tele, oppa. aku sudah menjadi Eun-Jae yang lebih dewasa. maka aku mohon, bacalah ini dengan sungguh-sungguh, karena surat ini adalah akhir dari segalanya.

akhir dari apa yang aku mulai.

oppa, kau pernah tahu rasanya menunggu ?

ah ya, kau pernah mengatakan padaku bahwa kau sangat benci menunggu, entah itu menunggu siapa, kau akan membencinya setengah mati.

selama setahun aku sudah menunggunya. kau pasti tahu siapa yang selalu kutunggu, kan ? hehehe..

selama setahun aku merasakan sesuatu yang berbeda tiap harinya. jika kau benci menunggu, maka aku sangat menyukai kata menunggu.

walau rasanya berat, tapi setiap aku melihat kearahnya, yang bahkan saat aku menatapnya ia tak pernah menatapku lama, aku seolah mendapat energi baru untuk terus menunggunya. menunggu waktu yang tepat untuk membuatnya mengerti.

selama setahun aku mencoba membuatnya mengerti, tapi ia tak kunjung paham. mungkin salahku yang senang bertele-tele dan membuatnya bosan. mungkin memang salahku yang terlalu berharap padanya, bahkan ia tak pernah tahu bahwa aku berharap besar kepadanya.

selama setahun pula aku tergila-gila dengannya. aku gila saat ia tersenyum padaku, aku gila saat ia membelai lembut rambutku, aku bahkan bisa gila melihatnya berlari kearahku dan akhirnya memelukku erat. ya, dia membuatku tergila-gila.

seharusnya kukatakan ini dari awal kita berjumpa. seharusnya kularang kau menatapku, seharusnya kularang kau untuk tersenyum padaku, seharusnya kularang kau untuk membelai sayang rambutku, seharusnya kularang kau memeluk nyaman tubuhku, seharusnya kularang kau memasuki hidupku, bahkan merasuki jiwaku.

mengapa harus kau, oppa ?

mengapa harus kau yang menjadi kakak kelas itu ? aku menyukaimu! bahkan saat kita berjumpa untuk pertama kalinya, aku merasa ada sesuatu yang bergetar disini, di hatiku. apa kau pernah merasakannya denganku ? mungkin itu hanya fantasi-ku saja.

mengapa harus kau, oppa ?

karena hanya kau yang selalu kulihat saat pagi menjelang, karena hanya kau yang selalu terbayang lekuk wajahnya, karena hanya kau yang selalu menyelimutiku jika aku meringkuk kedinginan, karena hanya kau yang menggenggam erat tanganku saat aku ragu, karena hanya kau yang memeluk erat tubuhku saat aku takut, bahkan hanya kau yang dapat menyentuhku hingga jauh kedalam jiwaku.

sudah pernah kukatakan bukan, bahwa kau adalah orang satu-satunya yang bisa menghangatkan jiwaku ? itu benar apa adanya. hanya kau yang bisa membuat hidupku terasa lebih berarti. melihat wajahmu di pagi hari, seperti aku bisa melakukan segalanya dengan baik.

pernahkah kau merasakannya itu denganku ?

bahkan aku mencoba untuk selalu tersenyum walau sebenarnya aku menangis. agar kau tahu, cinta ini, rasa ini, hati ini, tak pernah berhenti untuk mencintaimu, walau seberapa sering kau mengacuhkanku.

sekarang kau sudah tahu siapa kakak kelas itu.

boleh aku tahu siapa yang membuatmu tersenyum menantang matahari ? boleh aku tahu siapa yang membuat hari-harimu terasa menyenangkan ? boleh aku tahu siapa seseorang yang menghiasi harimu ? boleh aku tahu, siapa seseorang yang akhirnya kau sebut sebagai kekasih itu ? bolehkah, oppa ?

bukankah aku sudah sangat menunjukkan bahwa aku ingin mengetahuinya ? apa aku terlalu terlihat seperti sedang bercanda saat menanyakannya?

aku tak berharap–meski sebenarnya ada sedikit harapan–seseorang itu adalah aku, aku…hanya ingin tahu siapa yang sudah membuatmu merasa dunia ini seperti di surga.

jika jawabanku adalah kau. maka apa jawabanmu, oppa ?

=======^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^======

 

“oppa, dengarkan aku.”

“ya, aku mendengarkanmu.”

“jika suatu saat kau menyukai seseorang, jangan membuatnya merasa harus menunggumu. buat ia tahu bahwa kau selalu dibelakangnya.

agar jika dia mengerti, dia tak perlu mencarimu. karena kau selalu ada dibelakangnya, siap menerimanya apa adanya.”

“kau dapat kalimat itu darimana ?”

“sesaat setelah menatap foto ini.”

“itukan fotoku.”

“ya, itu memang fotomu, oppa.”

“tapi, kenapa kau bisa mendapat kalimat sebagus itu hanya dengan melihat fotoku?”

 

aku buntu. aku baru sadar bahwa pertanyaanku belum dijawab olehnya. dan benar-benar bodoh aku tak berusaha mengungkitnya kembali saat ia masih berada disampingku.

apa itu membuktikan bahwa aku benar-benar tak menganggapnya ada ?

apa sebegitu jahatnya aku sehingga mengacuhkan gadis yang bahkan selalu menungguku mengerti ?

=======^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^======

 

ddrrrtt… drrrrttt… ddddrrrtt..

aku meremas rambutku, entah sudah yang keberapa hingga penampilanku terlihat sangat berantakan. kuraih ponselku yang sengaja kuletakkan diatas meja ruang tamu.

tak ada nama memanggil,

aku langsung tercekat. seketika aku merasa aku tak perlu berpijak lagi diatas tanah, aku merasa sesuatu mencelos lega dari hatiku.

hanya satu orang yang nomornya tak pernah kusimpan. tentu saja kau tahu, Han Eun-Jae. saat itu aku merasa tak begitu penting menyimpan nomornya. karena apa ? ia selalu ada disampingku, jadi aku berpikir untuk apa aku mempunyai nomornya ?

“yeoboseyo ?”

“yeoboseyo, oppa !”

yah, aku benar. rasanya seperti tiba-tiba awan mengelilingiku, dan membawaku pergi ke tempat ternyaman yang tak pernah terbayangkan olehku.

“oppa ? kau mendengarkanku ?”

“ah, Ne. apa kabarmu?”

“baik. segalanya baik. kuharap kau juga selalu diselimuti oleh kebaikan. kkk~”

“ya, akupun baik. sama sepertimu.”

“mmmm…oppa, kau ingatkan hari ini hari apa ?”

“hmm? aku bahkan tak mengingat hari. hahaha.. memangnya ada apa ?”

“paboya! kau melupakan hari lahirmu sendiri ?!”

aku tercekat. benar, ia benar. ini hari ulangtahunku! hari dimana aku pertama kali bertemu dengannya, belepotan dengan coklat dan krim disana-sini. benar, ini hari ulangtahunku. bagaimana aku bisa lupa ? apa seharian ini fokusku hanya terforsir untuk surat ini ? bahkan kertas yang tadinya masih berwarna cerah, kini sudah lusuh seperti kertas contekan yang sudah dipakai dari tangan ke tangan.

“ah, ne, aku melupakannya. hahaha” tawaku garing. ia hanya diam.

“waeyo ?” tanyaku setelah beberapa saat ia tak merespon.

“datanglah ke tempat pertama kali kita bertemu. aku merindukannya.”

“mwo ?”

“aku merindukan tempat itu. bisakah kau memotonya dan mengirimkannya padaku ? aku ingin sedikit bernostalgia dengan Seoul.”

“ah arasseo, itu bisa diatur.”

“hm? aku mau sekarang juga.”

aku membelalakkan mataku. apa maksudnya menyuruhku malam-malam begini keluar rumah, padahal suhu sangat dingin? dan lebih tak bisa kupercaya adalah bagian tubuhku yang lain malah merespon permintaannya dengan baik. kini aku sudah berada diluar rumah, dan melangkah ringan ke sebuah taman yang sudah sangat kukenal baik.

“aku sudah berada ditaman. jadi, harus ku foto sekarang juga ?”

“Ne, kirim padaku setelahnya.” katanya singkat, lalu ia memutus hubungan.

aku membidik gambar taman yang sekarang semakin indah terlihat karena lampu warna-warni menjalar mengitari taman. semuanya memang semakin indah saat melihatnya diwaktu malam. setelah merasa mendapat gambar yang bagus, aku langsung mengirimkannya. sambil menunggu balasan atau respon darinya, aku duduk di sebuah bangku di taman itu. menatap ramainya kota Seoul. kota yang tak pernah mati walau kau membidiknya saat larut malam, atau menjelang pagi.

ddrrrt… drrrtt…

sebuah text masuk.

tanpa nama,

terimakasih.

jadi, apa aku sudah boleh tahu seseorang yang membuatmu bertahan, oppa ?

aku meneguk ludahku berat. siapa seseorang itu ? bahkan saat ini belum ada yang benar-benar menghiasi hari-hariku setelahnya pergi. apa benar gadis itu yang sudah membuatku bertahan ? apa benar bahwa aku juga membohongi diriku tentang perasaan ini ? apa malah perasaan ini sudah tumbuh dengan subur tapi aku mengacuhkannya ?

kugerakkan jemariku pelan tapi pasti. menuliskan namanya, sedikit tersendat karena baru kali ini aku merasa jemariku dingin, hatiku serasa beku, dan otakku seperti tak berfungsi. yang kurasakan hanya seperti refleks. spontanitas tubuh.

tidak ada seorangpun, selain kamu.

aku menatap ponselku terus-menerus. mengharap balasannya cepat dan tidak tersendat dengan gangguan sinyal atau apapun juga.

lama ia tak merespon. apa ia sudah tidur ? ketiduran mungkin karena aku terlalu lama membalasnya ? atau sesuatu terjadi padanya ? atau malah sesuatu yang sepele, seperti ia kehabisan batre atau pulsa ? apa ? apa yang menyebabkan ia lama merespon ?

aku meremas rambutku lagi. menambah berantakannya penampilanku.

apa mungkin dia sudah melupakanku ? melupaka rasa cintanya padaku ? karena dia lelah menunggu ? dan dia sangat sibuk mengatur bagaimana ia harus menjelaskannya padaku?

semua ini mendadak membuat kepalaku pening. kutengadahkan kepalaku kelangit. membiarkan uap-uap dingin semakin terlihat jelas keluar dari mulut dan hidungku. suhu di Seoul memang sedang dingin-dinginnya, tapi aku tak merasakan apapun. yang kurasakan hanyalah, hatiku yang membeku.

aku mati rasa. semuanya seperti terlihat semu dimataku. kugenggam erat ponselku, lalu dengan gerakan mantap kutekan tombol hijau untuk memanggil. memanggil seseorang tanpa nama di kontak ponselku.

“kenapa tak merespon ? kau sudah terlalu lelah menunggu, Jae-a ?”

sudah kubilang aku mati rasa. apapun yang akan dijawabnya sudah seharusnya ia jawab. entah ia masih menyimpan harapan itu, atau malah ia sudah membuang jauh-jauh harapan itu karena lelah menungguku mengerti.

ia berdeham kecil,

“lalu apa yang kau tunggu, oppa ? kau sudah melupakan dialog diantara kita ?”

aku memutar otakku keras. dialog antara kita ? itu sudah berlangsung setahun dan banyak sekali memori yang harus kubuka. apa ? apa yang dia maksudkan ?

ingatanku seperti sedang berbaik hati. aku mendesah sebelum menjawabnya,

“tentang jika aku menyukai seseorang..jangan kau buat ia merasa harus menunggumu, tapi buat ia tahu kau selalu dibelakangnya..” aku sedikit tergagap. enggan menolehkan kepalaku ke belakang, takut akan sesuatu yang hanya fantasiku saja.

lalu kulanjutkan,

“agar jika ia mengerti, ia tak perlu mencarimu, karena kau selalu ada dibelakangnya… menerimanya apa adanya.. kau–”

ia memotong kalimatku, dan aku merasa jantungku tak lagi kubutuhkan.

“kenapa kau terus membelakangiku ? sapalah aku, oppa.”

aku menggigit bibirku sekeras mungkin. ponselku sudah kugenggam dengan erat, seperti jika saja aku bermimpi, jangan pernah bangunkan aku, walau sesakit apa rasanya setelah aku bangun dan mendapati itu hanya sekedar mimpi.

“Han Eun-Jae.., itukah kau ?”

akhirnya aku berdiri dari dudukku. membalikkan tubuh, menghadap lurus ke seorang gadis dengan gaun putih selutut, rambut hitamnya yang ia gerai, dan bando warna senada dengan gaunnya. aku tercekat. mendapati ia terlihat lebih cantik 10ribu kali lipat oleh gadis manapun.

aku merangsek maju, yang ada dipikiranku hanyalah bagaimana caranya menghangatkan kembali hatiku dan hatinya.

maka langsung kupeluk ia, kubenamkan kepalanya di dadaku, agar ia tahu detak jantungku yang tak karuan, agar ia tahu rasa sakit karena telah mengacuhkannya beberapa waktu silam. ia sesenggukan. menangis sambil mencengkram punggungku kuat. seolah ia tak ingin melepaskan ikatan ini untuk waktu yang ia tentukan.

“oppa, apa kau puas ?”

“hmm?” tanyaku sambil mencium harum rambutnya. kini semua perhatianku terpusat padanya. tak akan kubiarkan aku kecolongan untuk kedua kalinya.

“kau telah menjajah hatiku selama 2 tahun. apa kau puas ?”

aku tertawa kecil, kemudian menyurukkan kepalaku di lehernya. mencoba mencari kehangatan darinya.

“aku tak akan pernah puas, sebelum kau bersumpah membolehkanku menjajah hatimu seumur hidupmu. 2 tahun bagiku waktu yang singkat, Jae-a..”

ia menggelinjang geli saat aku mengecup lembut bagian bawah telinganya.

“aku memperbolehkanmu, bahkan sebelum menyuruhku untuk itu.” katanya tenang, tangannya ia selipkan pada kaos oblong-ku, meraba punggungku yang dingin.

lalu ia tersadar,

“kau tak menggunakan baju hangat, oppa !”

aku tertawa, menjentikkan jariku di hidungnya.

“kaupun juga, Jae-a..”

lalu ia menunduk, menyembunyikan semburat merah dipipinya.

“ayo, kita pulang.” aku mengajaknya, lalu aku berjongkok, menyuruhnya untuk naik ke punggungku. ia tersenyum, lalu merangkulkan lengannya di leherku. sambil sesekali mengecup leherku bagian belakang.

aku hanya bisa menahan geli, sambil terus memegang erat kedua kakinya, dan melangkah ringan ke rumah kami.

“oh ya, aku lupa. saengil chukhae nae sarang, Kim Jonghyun..” katanya riang sambil mencium pipiku dari belakang. aku tersenyum, membiarkan semburat merah dipipiku lebih kentara.

dia…adalah sebuah anugrah terindah, untuk hari ulangtahunku. sama dengan saat pertama kali bertemu dengannya.

=======^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^======

EPILOG

“jadi apa jawabanmu soal fotoku ?”

“oh itu..karena hanya dengan melihat fotomu, aku bisa percaya cinta itu tak akan lelah menanti.”

 

=======^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^======

 

FINISH !! yey yey yey~! akhirnya FF ONESHOOT perdanaku selesai. gimana, readers ? jelek ya? ngebosenin ? ga asik ? yah…jeongmal mianhae deh, hiks hiks (?) kalo ada saran-saran yang membangun, ditunggu ya. buat kebagusan FF selanjutnya juga, kan ? hehehe… btw, thanks udah baca. apalagi yang ninggalin jejak, jeongmal gomawo !!!

buat yang mau req FF, bisa ke facebook aku, add aja : www.facebook.com/leeyounjoo kasih lawan mainnya siapa, maunya gimana. maksudnya sad ending atau happy ending atau malah ngegantung. wkwkwk

 

 

 

About Miyuyu

crazzzzeh. weirdo. extraordinary. i'm not special, but i think i'm special for myself :3 LMAO

Posted on 10 Februari 2012, in Couple FF, Fanfiction, Oneshoot and tagged , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Annyeong.. ^^
    aku reader baru.. hehe..
    Rei Na imnida., salam kenal..😀
    Ff ini bener2 bikin kesel bin gregetan sama jonghyun.. -_-
    betapa tidak pekanya namja itu.. ckckck..
    daebak thor.. ^o^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: